tugas 17 Agustus XII IPA 5



1.  Alifvia Yunita Azari (1)
XII IPA 5
Prokalamasi

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diawali dengan peristiwa dijatuhkannya bom atom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 oleh tentara Amerika. Hal ini menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pejuang kemerdekaan untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Dalam pelaksanaannya, ada perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Golongan muda ingin proklamasi kemerdekaan segera dilakukan sedangkan golongan tua tidak ingin terburu-buru dalam proklamasi kemerdekaan karena takut akan terjadi pertumpahan darah. Golongan tua terdiri dari Ir. Soekamo, Mohammad Hatta, Achmad Sochardjo, Mohammad Yamin, Iwa kusuma, dan Dr. Syami. Golongan Muda yang berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia diantaranya Sukarni, Wikana, Adam Malik, Chaerul Saleh Darwis, dan Jusuf Kunto.

Pada 16 Agustus 1945 terjadi peristiwa Rengasdengklok, dimana Ir. Soekarro dan Mohammad Hatta diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok dengan tujuan agar Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang dan segera menyatakan kemerdekaan.

Pada 16 Agustus 1945 pukul 23.00, Ir. Soekarno dan rombongannya tiba di Jakarta. Sehingga perumusan teks proklamasi dilakukan oleh Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Achmad Soebardjo di kediaman Laksamana Muda Maeda Tadashi. Pembacaan teks proklamasi dilakukan pada pukul 10 pagi dirumah Soekarno bertepatan di Jl. Pegangsaan Timur No.5, Jakarta Teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno, didampingi oleh Moh. Hatta dan disaksikan oleh sejumlah orang.

Rumusan teks proklamasi diketik deh Sayuti Melik dan ditanda tangani oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Selanjutnya, bendera merah putih dijahit oleh Fatmawati.


2. Nama :Nagitha romdhonia pratama
Kelas : XII MIPA 5
No. Absen : 20

Tokoh kemerdekaan :Martha Christina Tihahu

Martha Christina Tiahahu merupakan salah satu pejuang wanita yang turut serta berjuang melawan tentara kolonial belanda asal Maluku. Perempuan kelahiran 4 Januari 1800 ini memulai ikut serta ke peperangan sejak berusia 17 tahun. Karena keberaniannya, membuat sosok Martha Christina Tiahahu dijuluki sebagai Srikandi dari Tanah Maluku.Keberaniannya untuk mengangkat senjata melawan Belanda tidak lepas dari sosok ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, yang merupakan seorang kapitan dari negeri Abubu atau sekarang dikenal dengan nama kepulauan Uliase, Maluku. Martha telah melihat perilaku tentara Belanda yang sewenang-wenang terhadap masyarakat Maluku. Karena hal tersebut membuat dendam dan ingin ikutserta secara langsung melawan pasukan Belanda.Martha Christina Tiahahu mulai terjun ke lapangan perang secara langsung ketika berusia 17 tahun. Martha turut membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada 1817. Di bawah komando Pattimura, Christina martha Tiahahu ditunjuk menjadi salah satu pemimpin pasukan bersama ayahnya, Kapitan Abubu, dan beberapa pemimpin lainnya.Semenjak saat itu, Christina aktif ikut serta dalam peperangan membela rakyat untuk melawan tentara Belanda. Namun, pada 14 November 1817, rombongan pasukan Martha Christina Tiahahu tertangkap pasukan Belanda. Dalam peristiwa itu, Martha Christina Tiahahu hanya ditahan karena dianggap masih di bawah umur. Akan tetapi, ayahnya harus dihukum mati. Setelah ayahnya wafat. Martha Christina Tiahahu tetap melanjutkan perjuangan dengan mengumpulkan pasukan ayahnya yang masih tersisa. Namun, dirinya tertangkap oleh pasukan Belanda dan dibuang ke Pulau Jawa. Saat di perjalanan menuju Pulau Jawa, Martha Christina Tiahahu melakukan mogok makan, minum, dan tidak mau minum obat yang diberikan pasukan Belanda. Kondisi kesehatan Christina Martha Tiahahu pun semakin memburuk. Puncaknya, pada 2 Januari 1818, Martha Christina Tiahahu meninggal di atas kapal Eversten. Jenazahnya dibuang ke Laut Banda atas perintah Komandan Ver Huell. Christina Martha Tiahahu memeroleh gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia pada 20 Mei 1969 dari Pemerintah Indonesia.


3.Nama : Sandika Aji Saputra
Kelas : XII IPA 5
Absen : 31

Pro Kontra Proklamasi pada Peristiwa Rengasdengklok

Sejarah kemerdekaan Indonesia juga mengalami pro kontra menjelang pembacaan proklamasi tersebut. Pro kontra ini terjadi antara golongan muda dan golongan tua. 

Dimana golongan tua merupakan para anggota PPKI seperti Soekarno dan Hatta. Sementara golongan muda diwakili para anggota PETA dan para mahasiswa.

Pro kontra ini terjadi karena golongan muda menganggap bahwa golongan tua terlalu konservatif, sebab mereka menghendaki pembacaan proklamasi harus melalui PPKI dan sesuai dengan prosedur yang telah dijanjikan oleh Jepang yakni pada tanggal 24 Agustus 1945. Di sisi lain golongan muda menolak jika proklamasi harus dilaksanakan melalui PPKI.

Pasalnya golongan muda menganggap bahwa PPKI merupakan bentukan Jepang, dan mereka menginginkan kemerdekaan dengan kekuatan sendiri. 

Sutan Syahrir yang termasuk dalam golongan muda merupakan tokoh pertama yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera melakukan proklamasi.

Selanjutnya rapat resmi dilangsungkan di Pegangsaan Timur Jakarta pada 15 Agustus 1945. Yang dihadiri oleh Djohar Nur, Subianto, Armansyah, Chairul Saleh, Kusnandar, Wikana, Margono, dan Subadio. 

Hasil rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh tersebut memutuskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak harus menggantungkan pada pihak lain, dan merupakan hak rakyat.

Meski keputusan rapat yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan Indonesia itu telah disampaikan kepada Soekarno-Hatta, mereka tetap bersikeras dengan pendiriannya yaitu proklamasi harus dilangsungkan melalui PPKI. 

Sehingga pada akhirnya golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, salah satu daerah di Kabupaten Karawang.

Pilihan membawa Soekarno-Hatta ke luar Jakarta adalah untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dibantu dengan perlengkapan tentara PETA. 

Rengasdengklok sendiri dipilih karena letaknya strategis dan terpencil, sehingga tentara PETA bisa mengawasi setiap langkah tentara Jepang.


4. M.Arya Dimas Ramadhan Saputra
XII IPA 5 
Absen : 12

ACHMAD SOEBARDJO.
Peran Achmad Soebardjo cukup penting, yaitu membawa Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta setelah dibawa paksa oleh para pemuda ke Rengasdengklok.

Perjalanan ke Rengasdengklok penuh dengan rintangan dan bahaya. Namun langkahnya tak surut untuk menyelamatkan dua calon pemimpin bangsa Indonesia.

Sampai di lokasi, Achmad Soebardjo berhasil membujuk para pemuda yang menyembunyikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta agar membawanya kembali ke Jakarta. Ia juga meyakinkan bahwa keduanya akan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Achmad Soebardjo menjadi salah satu tokoh penting yang terlibat langsung dalam penyusunan naskah proklamasi. Soekarno menuliskan konsep teks proklamasi pada secarik kertas, sedangkan Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pemikiran mereka secara lisan. Itulah para tokoh proklamasi kemerdekaan RI.


5.Naifah Amelia 
Absen:21
XII IPA 5
Fakta - Fakta Kemerdekaan Indonesia
 Hari Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945 menjadi momen yang sangat penting bagi bangsa

Indonesia. Setelah ratusan tahun berjuang lepas dari cengkeraman penjajah, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Tahun ini, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2022, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan yang ke-77.
 Fakta kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah proklamasi yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta Pusat. Presiden Ke-1 RI Sukarno membacakan teks Proklamasi bersama Mohammad Hatta. Bendera Merah Putih dikibarkan. Informasi mengenai kemerdekaan Republik Indonesia kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri secara berangsur-angsur terutama menggunakan saluran radio. Peristiwa yang melatarbelakangi Proklamasi Kemerdekaan adalah jatuhnya bom atom di Hiroshima pada 7 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945.
Tahukah Anda, ada beberapa fakta unik dan menarik di balik Hari Kemerdekaan Indonesia yang lain nya?
Beberapa fakta-fakta unik yang terjadi pada peristiwa hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sebagai berikut:
1. Hari yang istimewa
 Dikutip dari laman Kebudayaan Kemendikbud, peristiwa proklamasi jatuh pada hari Jumaat bertepatan dengan bulan Ramadhan 1366 H.
2. Jepang berniat merampas foto Proklamasi
 Menurut laman ITS, fotografer Ipphos, France Mendoer mengabadikan momen proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jepang ingin merampas film foto milik Mendoer. Mendoer berbohong dan mengatakan jika negatif film sudah diberikan kepada barisan pelopor. Sebenarnya, Mendoer menyembunyikan negatif film foto tersebut di bawah pohon halaman kantor Asia Raja.
3. Palestina mengakui kemerdekaan Indonesia
 Pada 6 September 1944, seorang Mufti dari Palestina bernama Syekh Muhammad Amin menyuruh negara-negara Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.
4. Tiang bendera dadakan
 Tiang bendera yang digunakan untuk Proklamasi Kemerdekaan merupakan bambu yang disiapkan beberapa saat sebelum acara dimulai.
5. Sukarno Sakit
 Dikutip dari laman Antaranews, Sukarno tertidur pulas karena sedang sakit malaria dua jam sebelum dilakukannya pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
6. Upacara sederhana
 Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan dengan sederhana tanpa adanya protokol, bahkan tiang bendera hanya ditancapkan pada tanah.
7. Bukan suara asli dan penyebaran sembunyi-sembunyi
 Rekaman Proklamasi yang disebarkan ke seluruh penjuru negara, bukan rekaman asli pembacaan Proklamasi, tetapi rekaman ulang Sukarno di RRI Jakarta tahun 1951.
Penyebaran berita kemerdekaan Indonesia dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh Adam Malik melalui perangkat miliki kantor berita Domei.
8. Naskah asli dan naskah ketikan
 Naskah asli merupakan hasil tulisan tangan Sukarno tanpa adanya tanda tangan, sedangkan, naskah proklamasi yang sudah ditandatangani adalah hasil ketikan Sayuti Melik. Fakta lain mengatakan, naskah asli ditemukan oleh seorang wartawan BM Diah di tempat sampah. Naskah tersebut baru dikembalikan kepada negara setelah 46 tahun lamanya.
9. Bendera Merah-Putih dibuat dari kain dari pasukan Jepang
 Pada kenyataannya, kain yang digunakan oleh Ibu Fatmawati untuk menjahit bendera Merah-Putih berasal dari pasukan Jepang. Chairul Basri merupakan pasukan Jepang, yang kala itu berada di Kantor Jawa Hokokai, yang memberikan kain untuk dijahit sebagai bendera


6. Nama. : Lula Kamilia Az-Zahra
Kelas : XII IPA 5
No absen : 11

 Tokoh Dibalik Desakan Proklamasi
Sutan Syahrir, siapa sangka dia yang mendesak Soekarno-Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaan dua hari sebelum tanggal bersejarah 17 Agustus 1945. Bersama Mohammad Hatta, Sutan Syahrir selalu menyerukan pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia.
“…Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan.” kata Sutan Syahrir.
Pria kelahiran 5 maret 1909 di kota padang panjang, Sumatera Barat ini dikenal dengan hobinya yang suka membaca buku, khususnya buku-buku terbitan Eropa. Ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, Belanda setelah lulus dengan nilai terbaik pada sekolah elit di Bandung.
Saat semangat kemerdekaan ia lihat mulai pudar dari pemuda Indonesia karena ancaman dan kekangan Belanda. Pada 1931 ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan melanjutkan gerakan semangat kemerdekaan di Indonesia.
Saat kembali ke Indonesia, Sutan Syahrir bersama Mohammad Hatta memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) pada 1932. Kegiatan Syahrir dan Hatta di PNI baru membuat pemerintah kolonial Belanda lebih mengawasi secara ketat aktifitas partainya. Pergerakan yang mereka buat dinilai lebih radikal dengan mobilisasi massa besar-besaran.
Tekadnya yang kuat merebut kemerdekaan dari kolonialisme membuat Syahrir melakukan pergerakan ‘di bawah tanah’ dengan membangun jaringan untuk mempersiapkan diri merebut kemerdekaan.
Sutan Syahrir kemudian mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaaan Indonesia pada tangga 15 Agustus 1945, desakan itu juga didukung oleh para pemuda ketika itu.
Namun, Soekarno-Hatta tidak setuju karena mereka tetap mengikuti hasil keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mendeklarasikan kemerdekaan pada 24 September 1945.
Pamuda kala itu menerima kekecewaan atas sikap yang dikeluarkan Soekarno-Hatta. Kekecewaan itu berujung pada penculikan Soekarno-Hatta dan dibawa ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.
“…Penyelesaian nasib bangsa kita hanya akan ditentukan oleh orang-orang yang berhati besar,kuat dan jujur serta bercita-cita tinggi dan murni.” – Sutan Syahrir
Pasca kemerdekaan Indonesia, Sutan Syahrir dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai menteri termuda di dunia dengan usia 36 tahun. Bahkan, beliau juga rangkap jabatan sebagai Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri pada saat itu.
Sutan Syahrir juga dikenal sebagai sosok penting dalam perumusan kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan perangcang dari perubahan kabinet presidensil menjadi kabinet parlementer di Indonesia.
Sebagai perdana menteri Sutan Syahrir telah melakukan perombakan kabinet sebanyak tiga kali yaitu kabinet Syahrir I, Syahrir II dan Syahrir III. Dalam kancah internasional, beliau juga dikenal sebagai ahli diplomasinya konsisten dalam memperjuangkan kedaulatan Tanah Air.
Kemampuannya dalam hal komunikasi dan diplomasi menjadikan dirinya ditunjuk sebagai perwakilan Indonesia di Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) bersama Haji Agus Salim. Ia aktif membawa nama baik Indonesia di forum-forum Internasional.
Kepandaiannya dalam diplomasi serta berpidato mengenai kedaulatan Indonesia, mematahkan argumen perwakilan Belanda Eelco van Kleffens di forum PBB. Bahkan, berkat dirinya dan Agus Salim berhasil membuat PBB ikut campur dalam masalah Indonesia-Belanda. PBB kemudian mendesak Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia.
Berkat pidatonya di PBB, ia dikenal sebagai diplomat muda yang berani memerjuangkan kebenaran di kancah Internasional. Bahkan, orang-orang menyebut Sutan Syahrir dengan julukan ‘The Smiling Diplomat.”
Perjuangan Syahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan berakhir pada 9 April 1966, saat Sutan Syahrir menghembuskan nafas terakhirnya setelah ditangkap dan dipenjara tanpa pernah diadili oleh pemerintah kala itu.


7.Maulidina Kusuma
Absen:13

Tokoh Penjahit Bendera Merah Putih

Tokoh yang menjahit bendera Merah Putih adalah Ibu Fatmawati yang merupakan istri dari Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Ibu Fatmawati merupakan perempuan yang dilahirkan di Pasar Padang, Bengkulu pada 15 Januari 1923. Ibu Fatmawati menempuh pendidikan di HIS dan sekolah kejuruan. Sejak dari bangku sekolah, beliau aktif berorganisasi sebagai pengurus Nasyiatul Aisyiah. Pada tahun 1938, Fatmawati berkenalan dengan Ir. Soekarno. Ketika itu, Presiden Soekarno menjadi pengajar di Muhammadiyah dan Ibu Fatmawati menjadi salah satu muridnya. Pada tahun 1943, Presiden Soekarno pun menikahi Ibu Fatmawati.
Ketika persiapan proklamasi kemerdekaan, Ibu Fatmawati bertugas membuat bendera Merah Putih. Bendera tersebut kemudian dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati terbuat dari bahan katun Jepang berukuran 276 x 200 cm. Pada tahun 1946-1968, bendera tersebut dikibarkan hanya pada saat 17 Agustus saja. Tetapi sejak 1969, bendera tersebut sudah tidak dikibarkan kembali karena sobek, namun tetap disimpan di Istana Merdeka.


8. KHOIRUL ANWAR DALIMUNTHE
ABSEN : 10
KELAS : XII IPA 5
TUGAS : RESUME TENTANG KEMERDEKAAN

      Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Sejarah kemerdekaan Indonesia berawal dari Kota Nagasaki yang berada di negara Jepang tepatnya pada 6 Agustus 1945 mengalami guncangan, dan pada tahun 9 Agustus terjadi pemboman pada Kota Hiroshima oleh Amerika serikat. Dan ini menjadi pertanda awal menyerahnya penjajah Jepang kepada Amerika dan juga sekutu.

Kemudian BPUPKI memutuskan untuk mengganti nama menjadi PPKI atau panitia persiapan kemerdekaan Indonesia, dimana hal tersebut ingin menegaskan keinginan serta tujuan dari bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Tentu saja ini menjadi kesempatan yang diambil oleh bangsa Indonesia agar bisa memproklamasikan kemerdekaan.

Seketika itu kabar bahwa Jepang telah diambang kekalahan menyebar ke seantero negeri, dan menjadikan para pejuang Indonesia memanfaatkan hal tersebut untuk segera melakukan proklamasi kemerdekaan RI dan tidak menerima kemerdekaan Indonesia ini adalah hadiah dari Jepang.

Tepatnya pada tanggal 12 Agustus tahun 1945, Jepang yang melalui marsekal terauchi di Dalat Vietnam memberitahukan kepada Soekarno, harta dan juga radjiman Jika pemerintah Jepang segera memutuskan kemerdekaan kepada Indonesia serta proklamasi kemerdekaan dalam beberapa hari ke depan dan hal itu tergantung bagaimana cara kerja dari PPKI.

Namun rupanya Jepang menginginkan Indonesia merdeka pada tanggal 24 Agustus. yang kemudian Soekarno Hatta beserta dengan radjiman kembali ke tanah air setelah dari Vietnam, lalu Syahrir mendesak agar Soekarno segera melakukan proklamasi kemerdekaan karena dia menganggap hasil pertemuan yang ada di Vietnam tersebut merupakan tipu muslihat dari pemerintah Jepang.

Bersamaan dengan itu Syahrir kemudian menyiapkan para pengikutnya yang akan melakukan demonstrasi Bahkan ia dan pengikutnya pun juga siap menghadapi tentara Jepang jika saja adanya kekerasan. Bahkan, syahrir pulalah yang menyusun teks proklamasi agar bisa disebarluaskan kepada semua pejuang. Tentu saja dengan proklamasi kemerdekaan RI pada saat itu menimbulkan banyak sekali berteman darah yang tentunya mengakibatkan para pejuang di Indonesia gugur dikarenakan belum siap.

Soekarno memberi tahu kepada Hatta, jika Syahrir tidak mempunyai hak untuk melakukan proklamasi kemerdekaan sebab yang memiliki hak tersebut merupakan PPKI. Sedangkan Syahrir menganggap jika PPKI merupakan anggota yang dibuat oleh Jepang sehingga proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh PPKI itu merupakan hadiah dari Jepang.

Selanjutnya tepat pada tanggal 16 Agustus 1945, tekanan yang di alami oleh Soekarno pun semakin kuat dari para pengikut Syahrir. Dan pada siang harinya kemudian mereka pun berkumpul di rumah, lanjutkan berkumpul di rumah Soekarno tepat pada pukul 10 malam. dimana kurang lebih 15 pemuda menuntut agar Soekarno segera melakukan proklamasi kemerdekaan melalui radio dan disusun dengan pengambilalihan kekuasaan, bahkan Syahrir beserta para pengikutnya pun juga menolak rencana PPKI yang memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus tersebut.

Rapat yang dilaksanakan oleh anggota PPKI pada 16 Agustus tidak berjalan dikarenakan Soekarno dan Hatta tidak muncul dan mereka pun tidak mengetahui adanya peristiwa Rengasdengklok tersebut.

Rupanya tepat pada dini hari di tanggal 16 Agustus tahun 1945, para pemuda yang menjadi pejuang pada saat itu termasuk Khairul Saleh hilang kesabaran. Sehingga memutuskan menculik Soekarno, Hatta. Bahkan Fatmawati dan juga Guntur yang pada saat itu masih berusia 9 bulan pun turut dipindahkan ke Rengasdengklok. dan disitulah para pemuda tersebut membujuk Soekarno Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Setelah itu Soekarno Hatta pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta, lalu melakukan pertemuan dengan jenderal Yamamoto yang pada saat itu pertemuan dilakukan di kediaman wakil Admiral Maeda Tadashi. Dan dari pertemuan tersebut pada akhirnya Soekarno dan Hatta pun percaya jika Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Pada saat itu menyadari jika proklamasi tidak akan lepas dari pertumpahan darah, sehingga Soekarno, Hatta beserta anggota PPKI pun menyiapkan teks proklamasi yang nantinya akan dibacakan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.


9. Nama : Muhammad Ziya Huda Matari
absen : 18

Agresi militer belanda II
atau operasi gagak terjadi pada 19 desember 1948 yang diawali serangan terhadap Yogyakarta ibu kota indonesia pada masa itu

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyertakan untuk tidak lagi terikat dengan persetujuan renville yang di pidatoi oleh Dr. Beel. Jenderal Spoor sang pemimpin mempersiapkan serangan dari berbulan bulan yang lalu. Ia memulainya dari sehari sebelumnya. Di awali dengan pengeboman Maguwo , kemudian mendarat disana sebelum memulai penyerbuan Yogyakarta. Panglima besar Soedirman mengeluarkan perintah kilat yang dibacakan radio pada tanggal 19 Desember 1948 pukul 08:00

Soedirman dalam keadaan memustukan untuk ikut Gerilya namun Presiden tetap membujuknya untuk tetap dalam kota. Mentri Laoh mengatakan tidak ada lagi prajurit untuk gerilya. Maka Presiden dan Wakil Presiden serta dewan di Yogyakarta memustukan tinggal di sana untuk sementara.

Akhirnya Dewan Siasat merencanakan membentuk pemerintah sipil di pulau Sumatra , yang akan jadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Syafruddin Prawiranegara ditunjuk untuk mengambil alilh pemerintah pusat. Selain itu dibuat berupa surat untuk Duta Besar RI India dr.Sudarsono dan Menteri Keuangan A.A Maramis untuk membentuk Exile Government of Republik Indonesa di New Delhi, India ini bertujuan apabila Syafruddin gagal membentuk PDRI

Pukul tujuh pagi tanggal 22 Desember Pemimpin Republik telah di asingkan ke pulau bangka yang telah diperintahkan oleh Kolonel D.R.A. van Langen.Namun berbeda dengan rombongan Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus diterbangkan lagi menuju Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat, sementara Drs. Moh. Hatta (Wakil Presiden), RS. Soerjadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), MR. Assaat (Ketua KNIP) dan MR. AG. Pringgodigdo (Sekretaris Negara) diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul Pangkalpinang dan terus dibawa ke Bukit Menumbing Mentok dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen.

Soedirman memulai rencana gerilya dari luar kota Yogyakarta. Dengan di tandu dalam keadaan sakit keras menempuh kurang lebih 1000 km. Kolonel A.H Nasution sebagai kepala Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang dikenal Perintah Siasat No 1 isinya adalah Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas. maka mulailah gerilya pada tanggal 1 Maret 1949 yang dinamakan serangan umum.


10. Nama: M.Arkan 
Absen :16 

Hari kemerdekaan Indonesia sudah pasti memberikan banyak sekali makna dan arti bagi kita semua

1.Sebagai Pemersatu Bangsa
    Kemerdekaan menjadi salah satu momen yang membuat seluruh rakyat Indonesia bersatu. Dari ujung Barat hingga Timur Indonesia semua dengan lantang mengucapkan “Merdeka!”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kemerdekaaan Indonesia adalah momen terbaik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta menghilangkan perselisihan satu sama lain.


2.Semangat Pantang Menyerah
     Di dalam proses terciptanya kemerdekaan Indonesia, terdapat sejarah panjang yang penuh dengan perjuangan tanpa henti dan semangat pantang menyerah dari para pahlawan kita. Makna yang bisa kita petik adalah bahwa sebuah perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil yang kita harapkan


3.Saling Bekerjasama dan Percaya
    Perjuangan para pahlawan kita yang membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah bukanlah sebuah hal yang mudah. Tenaga, keringat, darah, air mata, hingga nyawa dipertaruhkan demi sebuah kemerdekaan. Dalam prosesnya sangat dibutuhkan kerjasama dan kepercayaan antara para pejuang satu sama lain. Sikap saling bekerjasama dan percaya juga bisa kita terapkan di kehidupan sehar-hari agar semua hal bisa berjalan dengan baik.


4.Saling Menghormati dan Menghargai
    Sebelum proklamasi kemerdekaan republik Indonesia para tokoh muda dan tua saling berdikusi sampai terjadi kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta dengan golongan muda yang diwakili oleh Achmad Subardjo tentang bagaimana dan kapan proklamasi akan dilaksanakan

    Sebenarnya masih banyak lagi makna dan arti kemerdekaan bagi kita semua, yang kesemuanya bisa makin menumbuhkan kecintaan kita terhadap negeri kita Indonesia.
    Kita sebagai generasi saat ini tidak semerta merta bisa duduk santai menikmati hasil kemerdekaan dari para pejuang, justru kita mengemban tugas yang lebih berat yaitu mempertahankan kemerdekaan ini dan berkarya untuk negara kita tercinta agar hasil kemerdekaan yang diperoleh dari para pejuang tidak sia-sia.


11Nama : Rani Nur Aisyah
Kelas : XII – IPA 5
Absen : 25

KH. Hasyim Asy’ari, tokoh ulama pemikir dan pejuang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional dan pendiri Pesantren Tebuireng, lahir pada 4 Robiulawwal 1292 H/10 April 1875, di Jombang, Jawa Timur. Kakek dari presiden ke-4 RI, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), serta ayah dari menteri Agama, KH. Wahid Hasyim.
KH. Hasyim Asy’ari diberi gelar Hadhratusy Syeikh dari kalangan ulama yaitu kontribusinya dalam menegakkan NKRI dengan peran dalam bidang keagamaan, pendidikan, perjuangan melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan, menyatukan dua kubu yang berseteru saat menentukan dasar negara Indonesia yang baru lahir hingga tokoh yang ditakuti oleh Belanda dan jepang karena mempunyai pengaruh besar. KH. Hasyim Asy’ari membuat fatwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci), mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda yang dituliskan dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementrian Agama secara luas.
Peran mempertahankan kemerdekaan dengan,
1. Resolusi jihad NU, 22 Oktober 1945
2. Perlawanan heroik dari arek – arek Suroboyo, 10 November 1945.
Atas perananya yag begitu dasyat, seorang wartawan Timur Tengah yaitu Sayyid Muhammad As’a Shihab menyebutkan dalam salah satu karyanya bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah awwalu wadi’ labinati istiqlali Indonesia (Maha kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, peletak dasar pondasi kemerdekaan Indonesia). KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947, jenajahnya dikebumikan di Pesantren Tebuireng, Jombang. Atas jasanya semasa hidup terhadap negara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.


Nama : Muhammad Rafly Alfarizi
Kelas :XII IPA 5
Absen: 17
 Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Tahun 1945

-Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat tanah air selalu memperingati hari proklamasi. Tanggal tersebut merupakan titik balik dari sejarah kemerdekaan Indonesia yang cukup panjang, dimana sebelumnya penduduk tanah air sempat dijajah selama bertahun tahun. Sebelum proklamasi terjadi, terdapat banyak peristiwa penting yang melatarbelakanginya.

Jepang Kalah dari Sekutu
-Latar belakang pembacaan teks proklamasi, dimulai atas penyerahan Jepang terhadap Sekutu. Dimana sebelumnya Jepang pada tahun 1944 telah mengumumkan bahwa Hindia Timur yakni Indonesia, diperbolehkan merdeka di kemudian hari.
Pengumuman tersebut dilakukan karena tentara Jepang sudah semakin terdesak, bahkan Kepulauan Saipan juga berhasil direbut dari Jepang.
Sehingga selanjutnya pada tahun 1945, dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Tujuan dari pembentukan dua badan tersebut adalah untuk menarik simpati dari rakyat Indonesia, agar mau membantu Jepang melawan sekutu.
Namun saat perang Pasifik terjadi, Hirosima dibom pada tanggal 6 Agustus 1945 dan disusul pengeboman Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945. Peristiwa tersebut membuat sekitar 14.000 penduduk Jepang menjadi korban dan akhirnya mereka mengaku kalah dari sekutu.
Buntut dari peristiwa ini yaitu Jepang berjanji memberikan kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945 untuk Indonesia.

Pro Kontra Proklamasi pada Peristiwa Rengasdengklok
-Sejarah kemerdekaan Indonesia juga mengalami pro kontra menjelang pembacaan proklamasi tersebut. Pro kontra ini terjadi antara golongan muda dan golongan tua.
Dimana golongan tua merupakan para anggota PPKI seperti Soekarno dan Hatta. Sementara golongan muda diwakili para anggota PETA dan para mahasiswa.
Pro kontra ini terjadi karena golongan muda menganggap bahwa golongan tua terlalu konservatif, sebab mereka menghendaki pembacaan proklamasi harus melalui PPKI dan sesuai dengan prosedur yang telah dijanjikan oleh Jepang yakni pada tanggal 24 Agustus 1945. Di sisi lain golongan muda menolak jika proklamasi harus dilaksanakan melalui PPKI.
Pasalnya golongan muda menganggap bahwa PPKI merupakan bentukan Jepang, dan mereka menginginkan kemerdekaan dengan kekuatan sendiri.
Sutan Syahrir yang termasuk dalam golongan muda merupakan tokoh pertama yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera melakukan proklamasi.
Selanjutnya rapat resmi dilangsungkan di Pegangsaan Timur Jakarta pada 15 Agustus 1945. Yang dihadiri oleh Djohar Nur, Subianto, Armansyah, Chairul Saleh, Kusnandar, Wikana, Margono, dan Subadio.
Hasil rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh tersebut memutuskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak harus menggantungkan pada pihak lain, dan merupakan hak rakyat.
Meski keputusan rapat yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan Indonesia itu telah disampaikan kepada Soekarno-Hatta, mereka tetap bersikeras dengan pendiriannya yaitu proklamasi harus dilangsungkan melalui PPKI.
Sehingga pada akhirnya golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, salah satu daerah di Kabupaten Karawang.
Pilihan membawa Soekarno-Hatta ke luar Jakarta adalah untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dibantu dengan perlengkapan tentara PETA.
Rengasdengklok sendiri dipilih karena letaknya strategis dan terpencil, sehingga tentara PETA bisa mengawasi setiap langkah tentara Jepang.

Perumusan Serta Pengesah Teks Proklamasi
-Terjadinya peristiwa Rengasdengklok membuat jalan pikiran Soekarno-Hatta berubah, dan pada akhirnya menyetujui agar proklamasi kemerdekaan harus segera dibacakan.
Setelah kembali ke Jakarta, mereka menuju kediaman Laksamana Maeda untuk melakukan perumusan teks proklamasi.
Rumah Laksamana Maeda dipilih dan menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia, karena Maeda merupakan Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut yang aman dari ancaman militer Jepang.
Pertemuan di kediaman Laksamana Maeda ini dihadiri pula oleh Sukarno, BM. Diah, dan Mbah Diro dari golongan pemuda.
Pada akhirnya berdasarkan pembicaraan antara Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo, didapatkan rumusan teks proklamasi yang langsung ditulis tangan oleh Soekarno.
Naskah tulisan tangan Soekarno ini nantinya mengalami tiga perubahan setelah diketik oleh Sayuti Melik.

Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan
-Setelah dirumuskan dan disahkan, pembacaan proklamasi dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945. Mulanya rakyat dan para tentara Jepang mengira bahwa pembacaan teks tersebut akan dilakukan di lapangan Ikada.
Bahkan atas dasar prasangka ini, tentara Jepang sudah memblokade lapangan Ikada terlebih dahulu. Pemimpin barisan pelopor Sudiro yang hadir di lapangan Ikada pada saat itu, kemudian menyampaikan situasi yang terjadi di sana kepada Muwardi yakni kepala keamanan Soekarno.
Saat itu ia mengetahui bahwa pembacaan proklamasi ternyata akan diikrarkan di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Pada saat itu, halaman rumah Soekarno telah dipadati oleh massa menjelang detik detik proklamasi. Semua sibuk mempersiapkan pembacaan teks, bahkan Fatmawati (istri Soekarno) tengah menjahit bendera dengan tangan yang ukurannya tidak standar.
Setelah persiapan lengkap, teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno yang menjadi sejarah kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan memang tidak sebentar. Penduduk tanah air harus merasakan penjajahan yang kejam dalam kurun waktu bertahun tahun.
Bahkan setelah proklamasi dikumandangkan pun, masih banyak perjuangan lainnya yang harus ditempuh seperti pembuatan naskah UUD 1945 dan lainnya, agar Indonesia bisa menjadi negara seperti sekarang.


13. Nama : Muhammad Amir Alfajri
Kelas : XII IPA 5
Absen 15

Mohammad Hatta atau yang akrab dipanggil Bung Hatta adalah seorang pemikir, negarawan, ekonom, dan sekaligus menjadi Wakil Presiden Indonesia yang pertama mendampingi Soekarno. Ia lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatra Barat.
Pendidikan masa kecil Moh. Hatta dimulai dari Sekolah Rakyat. Ia juga kental dengan pelajaran agama karena dilahirkan di lingkungan keluarga yang kuat akan ilmu agama. Beranjak dewasa, ia menempuh pendidikan di sekolah MULO. Selama pendidikan, beliau mempelajari banyak hal di luar pelajaran formal seperti keorganisasian. Kecintaannya terhadap organisasi masih terbawa saat ia melanjutkan pendidikan di PHS (Prins Hendrik School) pada 1921. Ia aktif menjadi bagian dari Jong Sumatranen Bond.
Ia pun lulus dari PHS dan mendapat beasiswa kuliah di Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda, Moh. Hatta kembali menambah kapasitas ilmunya dengan mempelajari hal-hal seperti tata negara dan juga ekonomi kolonial.
Keaktifan dalam organisasi tak terhenti, sejak Februari 1922, Bung Hatta telah terpilih menjadi bendahara di Indische Vereeniging, sebuah organisasi yang dipimpin oleh dr. Sutomo bersama dengan tokoh-tokohnya lainnya seperti dr.Sjaaf, Kaligis dan dr. Sarjito. Dalam perkembangannya pada tahun 1925 Indische Vereeniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia.
Di tahun 1925 itu, anggota Perhimpunan Indonesia mengumpulkan beberapa ratus golden untuk mengongkosi perjalanan dua orang ekonom dari perhimpunan Indonesia yaitu Moh. Hatta dan Syahrir untuk mempelajari cara mempraktekan koperasi di Denmark, Swedia dan Norwegia. Keberhasilan negara-negara tersebut dalam menjalankan koperasi menjadi tujuan dari Moh. Hatta dan Syahrir untuk mengembangkan ekonomi koperasi di Tanah Air. Jadi tidak salah kalau sekarang Moh. Hatta disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Atas desakan seluruh anggota, Moh. Hatta dicalonkan sebagai ketua dan tahun 1926 terpilih sebagai ketua Perhimpunan Indonesia. Sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia Bung Hatta dapat menyampaikan gagasan-gagasannya terkait politik yang dianut dan akan dijalankan Perhimpunan Indonesia. Namun sama seperti Soekarno, Belanda menganggap ini adalah sebuah ancaman bagi pemerintahan kolonial.
Dalam masa perjuangan politiknya itu, Bung Hatta pernah ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Setelah mendekam selama lima setengah bulan, berkat pembelaan dan perjuangan hukum teman-temannya beliau dibebaskan dari segala tuduhan.
Tak sampai di situ, bahkan dia juga pernah diasingkan oleh Belanda ke Digul dan Banda Neira. Saat pengasingan, ia menulis artikel-artikel untuk koran di Jakarta dan majalah-majalah di Medan yang tidak terlalu bermuatan politis. Tulisan-tulisan tersebut justru lebih bersifat menganalisis dan mendidik pembacanya.
Saat Jepang menduduki Indonesia, Hatta dibebaskan dan dijadikan penasihat oleh pemerintahan Jepang. Hal ini dimanfaatkan oleh Hatta untuk membela kepentingan rakyat Indonesia. Ia pun turut andil dalam keanggotaan Panitia Sembilan dan PPKI sebagai media persiapan kemerdekaan Indonesia.
Setelah perjuangan panjangnya, ia berhasil mewujudkan keinginan rakyat untuk memerdekakan Indonesia. Bersama dengan Soekarno, beliau menorehkan tinta “atas nama bangsa Indonesia” di dalam naskah proklamasi.
Perjuangan kedua pasangan emas tersebut dalam memerdekakan Indonesia tak lagi dimungkiri. Mereka pun diangkat menjadi pahlawan proklamasi secara resmi pada tahun 2012 setelah sebelumnya status tersebut mengalami distorsi berkali-kali.

14.Nama : Dira Alifia Purnama s
Kelas : XII IPA 5
Absen:7


Fatmawati 
• Lahir pada tanggal 5 Februari 1923, adalah istri dari seorang presiden indonesia pertama
   yakni Soekarno. Fatmawati merupakan ibu negara indonesia pertama pada tahun 1945-
   1967 dan merupakan istri ke-3 dari presiden pertama, Soekarno. Ia juga merupakan ibu
   dari presiden ke-5 indonesia yakni, Megawati Soekarnoputri.
• Fatmawati dikenal akan jasanya menjahit bendera pusaka sang saka merah putih yang
   dikibarkan pada upacara proklamasi kemerdekaan indonesia di Jakarta pada 17
   Agustus 1945.
• Dahulu pada pembuatan bendera pusaka sang saka merah putih , tidaklah mudah.
   Karena tidak mudah untuk mendapatkan kain merah dan kain putih namun, berkat
   bantuan Shimizu orang yang ditunjuk oleh pemerintahan Jepang sebagai perantara
   dalam perundingan Jepang-Indonesia. Ibu Fatmawati akhirnya mendapatkan kain
   merah putih. Shimizu mengusahakannya lewat seorang pembesar Jepang, yang
   mengepalai gedung di pintu air, di depan bekas bioskop Capitol. Bendera itulah yang
   berkibar di Pegangsaan Timur saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
• Ibu Fatmawati menghabiskan waktunya untuk menjahit bendera dalam kondisi fisiknya
   yang dibilang cukup rentan. Karena, pada saat itu Ibu Fatmawati sedang hamil tua dan
   sudah waktunya melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra. Tak jarang ia
   menitikkan air mata pada saat menjahit bendera itu.
   “Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya
   paksakan diri menjahit bendera Merah Putih, saya jahir berangsur-angsur dengan mesin
   jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja, sebab Dokter melarang saya
   menggunakan kaki untuk menggerakan mesin jahit”. Kata ibu Fatmawati dalam buku
   yang ditulis oleh Bondan Winarno.
• Pada tanggal 14 Mei 1980 ibu Fatmawati meninggal dunia karena serangan jantung
   ketika sedang dalam perjalanan pulang umroh dari Mekkah. Lalu ibu Fatmawati di
   makamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

15.Nama : Anugerah Giri Wicaksono 
Absen : 2

Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa sejarah yang cukup terkenal mengenai kemerdekaan Indonesia adalah peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945, satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan.

Peristiwa ini adalah peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta oleh sejumlah pemuda. Soekarno dan Hatta diculik pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari.

Tidak hanya kedua tokoh tersebut, Soekarno pun dibawa bersama istri beliau Fatmawati dan anak beliau Guntur yang baru berusia 9 bulan.

Penculikan ini bertujuan agar mereka tidak terpengaruh oleh Jepang.

Di Rengasdengklok, para pemuda kembali mendesak Soekarno untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia dan meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah.

Para pemuda pun menyatakan siap atas segala risiko yang mungkin terjadi.

Pada saat yang sama, di Jakarta, Wikana (perwakilan golongan muda) dan Mr. Ahmad Soebardjo (perwakilan golongan tua) berunding dan akhirnya Mr. Ahmad Soebardjo setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Kemudian, Yusuf Kunto dan Ahmad Soebardjo pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta kembali di Jakarta. Setelah tiba di Jakarta, mereka kembali ke rumah masing-masing.


16.Nama:Najwa Rahmatia 
Absen :22

Profil Ardelia Muthia Zahwa, Pembawa Bendera Merah Putih Upacara Detik-detik Proklamasi

Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia digelar, di Istana Merdeka, Selasa 17 Agustus 2021,
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka Tim Indonesia Tangguh dipilih untuk bertugas mengibarkan bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Adapun anggota Paskibaraka yang bertugas sebagai pembawa baki bendera Merah Putih Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. dari Tim Indonesia Tangguh adalah Ardelia Muthia Zahwa.
Ardelia merupakan perwakilan dari Provinsi Sumatera Utara yang terpilih sebagai pembawa baki bendera Merah Putih.
Ardelia yang lahir di Tebing Tinggi, 6 Desember 2004, saat ini menempuh pendidikan di SMA Harapan I Medan.
Sementara, 3 pengibar bendera lainnya dari Kelompok 8 ialah Aditya Yogi Susanto sebagai Komandan Kelompok 8 yang mewakili Provinsi Gorontalo, Dika Ambiya Rahman sebagai pembentang bendera yang mewakili Provinsi Jawa Barat, dan Ridho Hadfizar Armadhani sebagai pengerek bendera yang mewakili Provinsi Lampung.
Diketahui, Paskibraka 2021 yang anggotanya berasal dari perwakilan masing-masing provinsi di Indonesia sebelumnya telah dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 12 Agustus 2021.
Sebanyak 68 pemuda telah mengucapkan Ikrar Putra Indonesia dan siap untuk menjalankan tugasnya, Selasa 17 Agustus 2021.


17.NAMA : Scholastica Sthefani A.S
Kelas : XII IPA 5
Absen : 32 

 SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA

      Kemerdekaan Indonesia dimulai dari tanggal 6 Agustus 1945 ketika bom mengguncang Jepang lebih tepatnya di kota Nagasaki.
Kemudian, 3 hari berikutnya, Hiroshima kembali dibom pada tanggal 9 Agustus 1945. Pemboman ini mengakibatkan 14.000 korban jiwa. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki menjadi pertanda menyerahnya Jepang kepada Amerika dan sekutunya. Ketika bom kedua jatuh kembali di Nagasaki, Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Hal ini dimanfaatkan oleh Indonesia.
     Sehari kemudian, BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) berubah nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tanggal 10 Agustus 1945 pula, Sutan Syahrir telah mendengar kabar menyerahnya Jepang kepada Sekutu melalui siaran radio luar negeri yang ketika itu dilarang. Syahrir kemudian menginformasikan hal ini kepada penyair Chairil Anwar. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda, terutama para pendukung Syahrir.
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta (selaku pimpinan PPKI) dan Radjiman Wedyodiningrat (mantan ketua BPUPKI) diterbangkan ke kota Dalat (250 km di sebelah timur Saigon, Vietnam) untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi.
     Pada pertemuan itu, mereka dikabarkan bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pada saat itu, Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia dilakukan pada tanggal 24 Agustus dan pembacaan teks proklamasi akan ditugaskan kepada anggota PPKI. Sekembalinya Soekarno, Hatta dan Radjiman ke tanah air, Hatta menceritakan hasil pertemuan kepada Syahrir. Namun Syahrir menganggap hasil pertemuan tersebut hanyalah tipu muslihat Jepang.
Syahrir mendesak agar para tokoh dengan segera memproklamasikan kemerdekaan.
Selain karena Jepang akan menyerah kepada Sekutu kapan saja, tetapi juga untuk menghindari perpecahan kubu nasionalis (yang anti dan pro Jepang). Di sisi lain, Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah kepada Sekutu. Selain itu, beliau juga menilai bahwa jika proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada saat itu, akan terjadi pertumpahan darah dan berakibat fatal.
14 Agustus 1945
Pada tanggal ini, para pengikut Syahrir kembali menekan para tokoh bangsa untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan oleh golongan muda karena mereka telah mendengar kabar bahwa Jepang telah secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Golongan muda yang mendengar kabar ini adalah Sutan Syahrir, Wikana, Darwis dan Chairul Saleh.
Walaupun telah didesak oleh para golongan muda, golongan tua tetap tidak ingin terburu-buru untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi.
Soekarno dan Hatta kemudian mendatangi penguasa militer Jepang di kantornya di Koningsplein namun kantor tersebut ternyata kosong. Kemudian Soekarno, Hatta dan Soebardjo mendatangi kantor Laksamana Muda Maeda.
Sepulangnya dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan PPKI pada pukul 10 pagi tanggal 16 Agustus di kantor Jalan Pejambon No. 2 untuk membicarakan segala hal mengenai persiapan proklamasi kemerdekaan.
Pada pagi hari jam 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, akhirnya proklamasi dibacakan oleh Soekarno diikuti dengan pidato singkat tanpa teks.

Komentar